Breaking

logo

Monday, February 26, 2018

Orang Tolitoli itu Unik dan Lucu-lucu

Orang Tolitoli itu Unik dan Lucu-lucu


Berbagai suku bangsa dari Sabang sampai Merauke ada di Kabupaten yang menjuluki dirinya Kota Cengkeh ini. Begitu juga dengan agama-agama, dari yang diakui pemerintah sampai yang belum mendapat pengakuan juga ada.
Unik kan...?

Mereka semua hidup berdampingan, rukun dan saling menghargai, hormat menghormati satu dengan lainnya. Saudara jauh yang berasal dari daratan Cina bahkan mendapat tempat special, berbaur menjadi satu "Orang Tolitoli".
Unik kan...?

Bukannya sombong, tapi sebagai Orang Tolitoli perbuatan ini pantas saya lakukan. Saya akan membusungkan dada dan berbangga diri berkata "kamilah orang yang paling berbhineka tunggal ika di negara ini".
Unik kan...?

Terus lucunya mana?

Baik. Tapi sebelumnya simak dulu cerita berikut.

Pada masa pergerakan nasional  tepatnya tahun 1919 di Tolitoli terjadi peristiwa bersejarah. Di tahun cantik itu Haji Hayun memimpin sebuah perlawanan terhadap penjajah Belanda. Dengan gagah berani , sembari meneriakkan takbir, Allahu Akbar...Allahu Akbar...Allahu Akbar..., pasukan Haji Hayun menyerbu membuat rombongan Controlir de Cat Angelino matu kutu dan tak berkutik.

Perlawanan tersebut sangat menyita perhatian seluruh rakyat Hindia Belanda, terutama pemerintah kolonial. Karena dianggap sebagai representasi keresahan umum yang meluas di Hindia Belanda kala itu. Sehingga jika tidak ditangani dengan baik, ditakutkan dapat memicu perlawanan-perlawanan lain.

Ketakutkan pemerintah kolonial tersebut menjadi kenyataan. Terinspirasi perlawanan yang dipimpin Haji Hayun, tak berselang lama, perlawanan serupa meletus di Garut Jawa Barat. Dari situ, api perlawanan yang dinyalakan Haji Hayun terus menjalar keseluruh pelosok Hindia Belanda.

Dari desa-desa hingga ke kota-kota rakyat semakin berani memprotes segala kebijakan yang diniliai merugikan. Rakyat semakin berani menolak membayar pajak dan semakin berani mangkir dari kwajiban kerja paksa.

Api perlawanan tersebut terus berkobar disepanjang tahun 1919 hingga tahun 1920-an puncaknya adalah pemberontakan rakyat yang di pimpin Partai Komunis Indonesia di Jawa pada tahun 1926 dan di Sumatra pada tahun 1927.

Haji Hayun adalah pahlawan besar yang dimiliki bangsa ini, sehingga pada masa Bupati Edy Soeroso, sebuah jalan di Kelurahan Panasakan Kecamatan Baolan Kabupaten Tolitoli Propensi Sulawesi Tengah diberi nama Jalan Haji Hayun begitu juga lapangan yang berada di jalan tersebut diberi nama Lapangan Haji Hayun.

Rejimpun berganti dari bupati satu kebupati berikutnya. Sampailah pada masa bupati M. Ma'ruf Bantilan, nama Haji Hayun mulai digeser sedikit demi sedikit. Jalan yang dulunya bernama Jl. Haji Hayun diganti menjadi Jl. Ismail Bantilan.
Lucu kan...?

Puncaknya pada masa bupati Moh. Saleh Bantilan, dikeluarkan satu keputusan bupati yang menyatakan bahwa lapangan yang semula bernama Lapangan Haji Hayun diberi nama kembali menjadi Taman Kota Gaukan Mohammad Bantilan.
Lucu kan...?

Lucu!, karena orang-orang di daerah lain berupaya mengangkat tinggi nama pahlawannya, bahkan mereka berusaha agar pahlawan dari daerah mereka ditetapkan menjadi pahlawan nasional. Lucunya Orang Tolitoli malah ingin membenamkan nama pahlawannya, mendorong pahlawannya terhapus dari sejarah.
Lucu kan...?

Disclaimer: Kiriman pengguna/pembaca disitus ini, sepenuhnya menjadi tanggung jawab masing-masing pengguna. Dakoan.com tidak bertanggung jawab atas segala konsekwensi hukum yang timbul dari kiriman para pengguna tersebut