Breaking

logo

Sunday, July 29, 2018

Kisah Nenek Sutirah, Di Gubuk Reyot Dampingi Suami Melawan Stroke

Kisah Nenek Sutirah, Di Gubuk Reyot Dampingi Suami Melawan Stroke

Nenek Sutirah bersama advokat LBHP Tolitoli di depan rumah reyotnya
Mata tua Nenek Sutirah berkaca-kaca kala menceritakan kisah hidupnya "Nasib sudah begini Nak", ucapnya kepada Dakoan.com, Minggu (29/072018)

Dimasa tua, di usia yang sudah lebih dari setengah abad, perempuan sepuh itu tetap dituntut bekerja seorang diri.

Pasalnya, Kakek Ahmad Mukhid, pasangan hidupnya, lelaki hebat yang dicintainya, rekan setianya mengarungi samudra kehidupan kini hanya bisa terbaring lemas, lumpuh terserang stroke.

Anak-anaknya juga tak bisa dihubungi. Pasca kerusuhan Sambas hingga dirinya terdampar di Buta Totori (Tanah Tolitoli) Ia tidak pernah ada kontak lagi dengan sanak keluarganya.

Nenek Sutira menggantungkan hidup dengan memulung. Sebuah pekerjaan super berat bagi seorang perempuan renta seperti dirinya. Namun, sudah beberapa bulan terakhir ia terpaksa berhenti karena sakit suaminya makin parah.

Sebelumnya, suami Nenek Sutirah pernah mendapat perawatan medis di RSUD Mokopido. "Tapi, bapaknya ndak mau lagi dibawa kesana, takut katanya", sebut Nenek Sutirah.

Ketakutan suami Nenek Sutirah bukan tanpa alasan. Sebab, meskipun memiliki kartu Kartu Indonesia Sehat (KIS), perawatan yang didapatkannya selama dua minggu tetap harus dibayar dengan rupiah.

"Namanya juga nenek-nenek, sudah bingung, ndak tau itu mana rawat umum mana rawat gratis", keluhnya.
Kakek Ahmad Mukhid, suami Nenek Sutirah
Kakek Ahmad Mukhid, suami Nenek Sutirah terbaring sakit

Kehidupan nenek asal Madura itu sangat jauh dari kata cukup. Rumahnya yang tak layak disebut rumah di Jalan Veteran 1 Kelurahan Baru, di samping Kantor Dinas Perumahan Rakyat Kabupaten Tolitoli  dapat membuat setiap orang yang melihat mengelus dada.

Bangunannya sempit, reyot dan berkarat, tanpa jendela dan ventilasi. Didalamnya hanya ada tempat tidur beralas kardus yang dirangkai seadanya hingga menyerupai ranjang.

"Kalau siang begini panas sekali, tapi sudah sukur ada tempat berteduh", tuturnya.

Nenek Sutirah adalah tipe orang bermental baja. Meski hidup terlunta-lunta dan serba kekurangan, Beliau tidak mau menerima belas kasihan orang begitu saja.

Usman Ali, advokat Lembaga Bantuan Hukum Progresif (LBHP Tolitoli) yang saat itu akan memberinya uang, ditolaknya. "Jangan Nak, beli saja becak ku itu", katanya.

Disclaimer: Kiriman pengguna/pembaca disitus ini, sepenuhnya menjadi tanggung jawab masing-masing pengguna. Dakoan.com tidak bertanggung jawab atas segala konsekwensi hukum yang timbul dari kiriman para pengguna tersebut