logo

Saturday, August 31, 2019

Puncak Ogomoli Mengalahkan Trauma Istri Pada Si Merah

Puncak Ogomoli Mengalahkan Trauma Istri Pada Si Merah

Puncak Omoli
Isrti : Tidak matikah motormu?

Saya: Tidak, kan sudah diperbaiki kemarin.

Mantan pacarku itu meragukan Si Merah. Motor butut yang jadi teman setia saat melaksanakan tugas-tugas pendampingan PKH. Benda yang juga jadi pemanis saat kami pacaran dulu.

Akhir-akhir ini memang Si Merah selalu rewel.

Pernah waktu pulang dari Basidondo. Saya berboncengan dengan istri dan anak balita saya, Raden. Ditengah perjalanan Si Merah kambuh. Mesin hidup tapi tidak bisa jalan. Apa-apa jauh. Bengkel jauh. Rumah penduduk juga jauh. Dikanan hanya ada hutan. Dikiri juga hutan. Terpaksa kami berjalan kaki.

Untung saja ada pengendara motor baik hati bersedia menolong. Istri dan anak saya diboncengnya, saya ditinggal sendiri menuntun Si Merah.

20 metit kemudian dia balik lagi.

"Ibu menunggu dibengkel. Naiki saja motornya, nanti Bapak saya tonda", katanya.

Saya segera naik. Dengan kaki kirinya Si Merah didorong dari belang.

Rupanya pambelnya putus. Istri saya masih trauma karena kejadian itu.

Namun, cuaca cerah menjadikan Puncak Ogomoli begitu menggoda. "Mari jo. Keren sun set diliat dari atas" sekali lagi saya coba membujuknya.

Alhamdulillah. Dia bersedia.

Pukul 17 lewat kami berangkat, sebentar lagi matahari terbenan. Moment paling romantis di Puncak Ogomoli tidak boleh terlewatkan.

Warna emas dilangit Tolitoli saat matahari terbanam adalah pemandangaan paling menakjubkan dari puncak ogomoli. Apalagi disaksikan bersama orang terkasih. Romantis sekali.

10 menit kami sudah sampai. Jalannya mulus, aspalnya masih baru. Dikerjakan dari tahun 2016. Karena sesuatu dan lain hal, rekanan pemerintah PT Herto Persada memutuskan kontrak. Pekerjaan mangkrak. Dilanjutkan lagi tahun 2018 dengan dana sebesar 12,5 Milyar (sumber :Website DPRD Tolitoli).

Tiba di Puncak Ogomoli kami lansung pesan sareba hangat plus pisang goreng. Di sana ada beberapa lapak yang menyediakan minuman tradisional sari jahe itu. Harganya murah meriah, Rp 5000,-/gelas.

Untuk bersantai, disana ada beberapa gazebo. Disediakan untuk pengunjung secara gratis. Tapi kami lebih memilih bangku bambu, tepatnya banbu yang ditata seperti bangku.
Puncak Ogomoli Tolitoli
Raden nagis tidak mau digendong ibunya. Yang dibelakang mereka itulah bambu yang ditata seperti bangku itu.

Disana juga ada panggung kayu, berdiri persis ditepi jurang, menghadap ke arah selatan. Dari situ nampak jelas kota Tolitoli diapit barisan pegunungan persis seperti Kota Merano di Pegunungan Alpen.
Sore hari di Puncak Ogomoli Tolitoli
Dari panggung kayu ini hijaunya hamparan pepohonan cengkeh nampak begitu indah

Kalau Merano memanjakan wisatawan dengan hamparan padang rumput hijaunya, Tolitoli memanjakan wisatawan dengan hamparan pepohonan cengkeh hijaunya.

Kami tidak sadar telah melewatkan waktu sholat magrib. Keindahan alam yang mestinya jadi pengingat malah memjadikan kami lalai. Semoga Allah SWT mengampuni.

Menjelang isya kami kembali kerumah. Tiba dirumah azan sudah berkumandang. Kami segera mempersiapkan diri. Mandi, berwudu lalu mengenakan pakaian sholat. Memohon taubat dan memuji kebesaran Nya.

Disclaimer: Kiriman pengguna/pembaca disitus ini, sepenuhnya menjadi tanggung jawab masing-masing pengguna. Dakoan.com tidak bertanggung jawab atas segala konsekwensi hukum yang timbul dari kiriman para pengguna tersebut